Home
pergaulan
Tampilkan postingan dengan label pergaulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pergaulan. Tampilkan semua postingan
Sekali-kali
tengoklah keluar
mentari
masih menyingsing diatas mercusuar
redup
rembulan tak pernah tertukar
saksikanlah
dari balik belukar
ada
secercah cahaya berpendar
meski
awangmu dihias sendu getir.
Sekali-kali
berhentilah
meratap
atas duri-duri yang menjahili langkah
atau
kemudian tersungkurlah
kala engkau dikepung ragu-ragu
mengunci
hati enggan menuju.
Sekali-kali
angkatlah kepala
jangan
melulu angkat tangan
kau
masih punya kaki maka
kau
bisa melangkah ambil tujuan
atau
kau masih punya
sepasang
mata untuk mengawang
sebutir
mutiara yang tersimpan dalam angan.
Written on 10/19/2014
with revision.
Malam
ini dingin. Disamping karna digigit nyamuk, sepertinya nocturnal sudah menyatu
dalam nadi, jadi jangan heran kalau Chik update status malam-malam. Jam setengah
sembilan tidur pulas disamping hp. Beberapa kali sempat baca tentang bahaya
radiasi handphone. Tapi kayaknya cuma
dikit yang mengendap dikepala. Gimana mau ninggalin hape kalau percakapan yang
ada didalamnya belum mau diakhiri, percakapan biasa, tapi dari orang istimewa. Hehehe.
Pas
buka laptop, tancepin headset, search lagu favorit. Tiba-tiba lagu dari Element
judulnya Cinta Sejati jadi now playing.
“Hanya cinta sejati yang bisa bertahan tanpa mengenal waktu. Bertahan seperti karang ditengah samudra.”
Lagu
ini udah lama bangeet. Selidik punya selidik, ternyata filenya berasal dari
foldernya Mama. Lagu yang dirilis tahun 2002 dengan Ari Lasso sebagai vokalis. Saat
itu aku baru lucu-lucunya, pipi gembul, gigi gigis, dan polah pethakilan (sampai sekarang).
Malam
ini aku lagi kangen seseorang (agak nggak nyambung sama lagunya sih).
Seseorang
yang dulu selalu punya waktu untuk sekedar mendengar cerita sehari-hari atau
memberi nasihat sekarang sudah larut dalam alunan kesibukan masing-masing. Tak sempat
mampir karna tiap menginjakkan kaki di rumah, raja langit telah berganti tahta.
Memang banyak fasilitas media sosial yang dapat diakses, tapi tetap saja, ruang
hampa itu tetap ada, batas itu tetap tercipta.
Tiba-tiba
pikiran berkelana, kembali ke nostalgia masa putih biru.
![]() |
| Mau ke My Meal deket sekolah. |
Saat
itu hujan, kita (aku, Ami, Salsa, Alya) nunggu bis bantulan di emperan toko. Kita
mau mancing di Rumah Alya. Yeayyy! Saat itu kelas 7 smp dimana kita sedang coba
saling mengenal, lalu dekat, lalu jadi sahabat.
Teriakan
agar melesat lebih kencang bergema dalam kepala. Suara itu, suara yang begitu
familiar di telinga menjelma menjadi suara tanpa bibir ketika kelopak terbuka.
Tak ada siapa-siapa. Aku terperangkap dimana? Labirin didepanku gelap, penuh
kerikil, bercabang nampak tak berujung.
Suara
itu terdengar lagi. Tapi yang ini berbeda. Suara itu menghujat, menyalahkan, seperti
memaksa agar tumbang ditempat. Seperti teriakan yang pertama. Satu kali, tak
terdapat perubahan nada suara. Dua kali, suara itu lebih dari satu. Tiga kali,
bising memenuhi kepala. Membuat otak tidak betah berada di tempatnya. Hei,
masih waraskah aku? Ataukah sekitarku yang mulai tidak waras?
Aku terus melesat, berlari sekuat tenaga. Percaya saja langkah yang kuambil
benar, meski tak tahu mana jalan yang pasti. Tak mengelak ketika dikatai; aku
memang tak punya destinasi.
Sebuah
kerikil kecil menusuk kaki yang tak beralas. Tak sengaja, kemudian tersungkur
di tengah belantara. Masih sendiri. Lalu suara itu menghilang, ketika aku
mencoba berdiri meski menyisa luka sesak dalam dada.
Ada
baiknya, ketika kepercayaan tidak diberi kepada sembarang orang. Ada baiknya,
mencermati terlebih dahulu, mana yang tulus mendengar dan mana yang mendengar
untuk mengadu pada pendengar lain.
Sedang mencari bahu,
Yogyakarta, 25 Oktober 2014.
Assalamu’alaikum hari terakhir
pada bulan September,
Riuh
nada-nada serta teriakan bersemangat tadi sore masih terngiang di kepalaku.
Kami, seluruh Seveners berhasil membakar GOR Amongrogo dengan semangat
menggebu, mendukung tim futsal almamater tercinta. Ini
pertama kalinya aku menyaksikan pertandingan futsal langsung dalam tribun
penonton. Meskipun aku bukan penggemar bola, aku tahu tim kami telah
mencurahkan seluruh tenaga demi menghasilkan dua gol dibabak pertama.
Kali
ini, aku tidak mau menjadi apatis lagi. Sudah cukup inersia menciptakan gap yang tak kentara, berpartisipasi
dalam event angkatan, kenapa tidak,
toh bersorak-sorak bersama teman-teman itu asyik! Beda deh kalo dibandingin
sama ikut diklat atau pelatihan yang membuat syaraf menegang.
Segini
dulu ya post Lisa hari ini. H-13 UTS, nih! Semoga bureng tidak menjadi gareng!
Dapet semangat dari Chik, nih! Semoga harimu menyenangkan^^
Wassalamu’alaikum wr.wb
Yogyakarta,
30 September 2014
Dari
lampu kamarku yang menyala sendirian,
Lisa.
Assalamu’alaikum,
How’s life?
September
segera beranjak, bulan ini hampir purna, tapi tidak dengan pikulan amanah yang
tersampir dikedua bahu. Rasa-rasanya aku cukup belajar, bahwa memikul tanggung
jawab tak semudah yang terlihat. Di jalan ini, alangkah sukarnya menyampaikan,
alangkah peliknya menerima, alangkah mahalnya toleransi, dan alangkah pedihnya
sabar.
Aku takut
tidak bisa mengimbangi langkah dan akhirnya terjatuh. Jangan. Jangan sampai.
Jujur saja,
rasanya aku tak pantas menerima semua pikulan ini. Aku tahu, masih banyak bahu
lain yang mampu. Masih banyak tangan-tangan cekatan atau otak-otak brilian yang
tak kelihatan. Tapi sekali lagi,
“Amanah
itu diberi bukan diminta”
Lagi-lagi
aku tergugu. Mungkin, aku keputusan memang ada ditanganku. Dan aku sedang
meminta bantuan Allah-ku untuk membantu menunjukkan jalan dan memutuskan yang terbaik. Doakan aku, ya,
teman-teman. Semoga aku bisa menjadi orang yang bermanfaat dan bukan
sebaliknya.
Midterm is getting closser. Di tengah ke plonga-plongo-an ku di kelas, aku sadar
ini saatnya untuk mengejar ketertinggalanku dibidang akademik. Ya, ini juga
merupakan amanah yang paling besar dari kedua orangtuaku. Hamasah!
Wassalamu’alaikum
![]() |
| Source of image : Tumblr |
Sebelumnya,
aku tak pernah seantusias ini ketika berkutat dengan ponselku. Pasalnya,
sebelum kamu dan pesan-pesanmu membombardir kotak masukku, keseluruhannya
terasa membosankan, kecuali icon galery tempatku dan kawan sering berdesakan foto
selfie. Frekuensi kita bertukar kabar
lewat pesan teks kini beralih dengan aplikasi sosial media yang dapat diakses
lewat paket data. Sesuatu yang membuatku menjadi tidak sabaran apabila sinyal
mulai melambat tak bersahabat. Ya, segala sesuatu tentang kamu mendadak menjadi
fanatisme buatku.
Jumpa
denganmu di sekolah tentu saja terasa menyenangkan, bel pulang menjelma menjadi
melodi paling merdu sedunia, karena pada saat-saat itulah kita bisa bercakap
dalam dunia nyata.
Tak
ketinggalan interaksi yang terbentuk akibat jarak yang tercipta membuat frase ‘Udah
sampai rumah belum’ ‘Lagi ngapain’ ‘Selamat tidur’ yang menjadi istimewa kalau
itu menyangkut kamu. Maaf kalau namaku selalu membanjiri kotak masuk pesan, whatsapp, line, dan aplikasi berkaitan dengan account-mu. I just can’t stop
texting you. Kalau aku bisa, aku ingin memberi interval agar kamu tidak
bosan, tapi rasa kantukku yang sering kambuh tanpa rencana pada jam-jam kamu
ingin ditemani mengakibatkan kita tidak berada pada zona waktu yang sama. Tak apalah,
mungkin tanpa kesengajaan itu aku bisa membuatmu menghirup nafas bebas.
By the way, besok kamu ulangan, kan?
Semoga belajar barengnya bisa bermanfaat. Makasih udah bela-belain bolos les cuma
sekedar pengen menghargai es krim yang keburu
mencair. Semangat ya! Aku tahu, dengan niat, kamu pasti bisa!
Maaf
kalau aku sering ganggu,
Yogyakarta,
9 September 2014
Erliza
Cikal Arthalina.
Dihadapan buku-buku tebal yang bertumpuk diatas
meja, diantara pradigma-pradigma yang berserakan di seluruh jagad raya, serta
ditengah ribuan doktrin yang diciptakan tokoh ternama, aku masih melacak aksara
berkelana menelusuri tiap frase inchi demi inchi.
Usiaku enam belas tahun sejak empat bulan yang lalu, disiklus kehidupan manusia, aku dikategorikan sebagai remaja.
Kata orang, remaja itu masa mencari jati diri.
‘Mencari’ berarti menunjuk ke sebuah lokasi. Dan
lokasi selalu berkaitan dengan koordinat. Lantas dimana koordinatku?
Angka-angka itu mulai membuatku pusing, jarum kompas berputar seperti gasing, seakan
arah yang kuambil tak pernah benar.
Kata orang, sikap itu refleksi dari dirimu.
Omong kosong apalagi ini. Refleksi? Yang kutahu
refleksi itu kudapatkan ketika bercermin. Tapi wajah siapa ini? Aku menatap
lamat-lamat ke cermin, meyakinkan bahwa ini adalah pantulan diriku, tapi aku
tak mengenali wajah ini. Aku diam tak berekspresi, sedangkan refleksi itu
mengangkat sebelah sudut bibirnya; seolah tersenyum mengejek. Dan fakta yang
menamparku begitu keras tiap kali aku mengelak; manusia di depan cermin
dan bayangan dalam cermin, keduanya aku. Sampai
kapanpun, itu adalah diriku.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



