Home
De Amor
Tampilkan postingan dengan label De Amor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label De Amor. Tampilkan semua postingan
"Mungkin kamu sampai pernah di titik: ngrasa tidak punya Ibu. Sosok yang seharusnya selalu ada disisimu, membimbing, dan mengayomi; tidak kunjung dirasakan hadirnya. Bener nggak, Cik?"
Aku terdiam. Memandangi pisang bakar yang saus karamelnya hampir gosong, memain-mainkan ujung garpu tanpa berniat mengambilnya satu. Lantas tersenyum,
"Bagaimanapun perasaanku padanya; ia tetap ibuku dan aku tetap anak gadisnya yang beranjak dewasa." ucapku dalam hati. Enggan melanjutkan.
Ibu akan pulang sebentar lagi.
Semoga tidak ada yang terlambat sama sekali.
Termasuk pelukan hangat seorang Ibu.
--- Duapuluh dua, dua belas
Untuk Rajawali
Kupikir, bercanda pada beberapa topik serius bukanlah ide bagus.
Hal-hal yang kau sangka lucu itu; menyisa residu di dasar relung
meski aku tak mau dan kau tak bermaksud.
Saya sebenarnya tidak tahu, apakah kau sungguh-sungguh bercanda.
Atau ada maksud dibalik bercandamu itu.
Atau ada maksud dibalik bercandamu itu.
[It's never been funny since I know she's still loves you]
--- Lima belas, enam
Terlepas dari siapa dan bagaimana; aku merasa bahagia malam itu.
Merasa dipedulikan dan dianggap, meski hanya sebatas pertanyaan
pengantar tidur untuk menuju taman bunga khayalan.
Kau memang baik kepada siapapun. Semua orang tahu itu.
[Oh Tuhan, saya tidak boleh merasa gugup saat tidak sengaja bertemu dengannya]
--- Random
Kalau kau bertanya kualitas terbaik apa yang seharusnya dimiliki seseorang,
maka itu adalah ide dan gagasan yang tak pernah padam.
Selalu punya ruang untuk diperjuangkan, meski
seisi dunia mencela tanpa ampun.
Selalu punya ruang untuk diperjuangkan, meski
seisi dunia mencela tanpa ampun.
Maka jangan salahkan saya, kalau ada dijajaran pengagummu.
[Jika suatu hari ada oranag yang ingin menulis biografi hidupmu, apakah mungkin jika itu saya?]
--- Empat, enam
Ada nama yang kau sebut siang itu di kedai makan favoritmu.
Nama yang sama kau ulangi malam itu di warung dekat lampu merah.
Sekali lagi, nama itu tersemat jelas pada jendela pesanku darimu;
membuatku bertanya, -seberapa penting arti nama itu bagimu?
Kamu yang bilang sendiri, ia masih punya rasa atasmu.
Tidakkah kamu juga demikian? Menyimpan rasa atasnya lantas menduga
Sepertinya saya harus berkemas. Sebelum semuanya terlambat
dan lebih menyakitkan dari luka yang tak pernah punya nama.
[Saya tidak benar-benar pamit sekarang. Entah suatu hari]
[Mengapa masih mengharapkan saya? Jika selalu ada ruang di dasar relung; untuk kau bagi segalanya? Mimpi dan hal lain yang pernah kau bercandai waktu itu]
Ternyata dari awal, saya sudah salah menempatkan posisi.
Sungguh, waktu berjalan dengan
amat sangat cepat. Sudah satu tahun berlalu, dan aku kehilangan banyak kesempatan mengabadikan momen dalam tulisan. Termasuk di dalamnya cerita tentang aku,
kamu, dan hujan.
![]() |
| Mendung di sekitar rumah saya |
Musim telah berganti. September masih dikepung air langit, tetapi di penghabisan bulan ini, hanya aku
dan hujan yang tersisa. Kisah favoritku telah pergi. Sudah tidak ada lagi ‘kamu’
di dimensi nyataku.
Teruntuk kamu yang sedang dalam
dekapan hujan, aku tidak melupakan,
bukan pula menyingkirkan. Hanya saja, hujan telah mengigilkan tubuh
kita. Dan payungku tidak cukup lebar untuk menaungi dua manusia sekarat. Biarkan
aku basah kuyup, atau kamu yang duluan berteduh. Untuk menguji, seberapa pantas
kita bertemu lagi dibawah rinai hujan yang sama.
Di tempat yang baru ini, kuharap
kita dapat menciptakan momen favorit masing-masing.
Kubiarkan kamu mengisi celah-celah rinduku. Meski aku tak kunjung mengetahui, apakah masih ada namaku dalam benakmu.
Sampai jumpa di akhir kisah yang
baru. Walau tak saling bertukar kabar, aku tahu kamu baik-baik saja. Seperti halnya
aku tahu, bahwa aku akan baik-baik saja.
![]() |
| Source here |
Sepasang
burung pipit kala itu, menggepakkan sayap coklat-kelabunya yang mungil, saling menatap di rerumputan sambil bertukar cicit.
Ia
duduk, tidak banyak bicara. Mengulurkan sebungkus bakso bakar yang masih
hangat.
“Ini yang paling enak kata temanku,” aku
menerima ulurannya, mencomot sebagian. Dan aku pikir, temannya benar.
Sore
itu, di tengah para pemanah, para pemain futsal, pelari, maupun kanak-kanak
yang sedang belajar berdiri, dari arahku melihat, kau bersinar diterpa matahari
sore, yah, setidaknya matahari bertahta di belakang rambut legammu.
Ini adalah
momen langka. Di lapangan serbaguna dimana sudut-sudutnya diberi bangku bertingkat
mirip stadion ini, sebuah ketukan datang. Mempersilakanku
menyelam ke sisi lain dirimu.
Salah
satu burung pipit itu terbang rendah. Tadinya kupikir pasangannya akan
mengejarnya. Ternyata tidak.
“Entahlah,
hanya saja aku merasa nyaman menjadi diriku sendiri. Diriku yang sekarang,”
Ucapmu
sambil menerawang setelah memaparkan bemacam sebab yang tersembunyi dibalik
karena.
“Hey, sama
sekali tidak ada salahnya, sudah besar harus sudah bisa memijak. Eh, tapi siapa
yang tahu lima tahun lagi? Sepuluh bahkan? Bisa saja kamu berubah pikiran,”
“Yah,
siapa tahu,” kau mengedikkan bahu, tertawa renyah. Mengumpulkan sisa-sisa
semangat yang terkumpul pada sebuah pusat di tubuhmu.
Tak berapa
lama, seekor burung dari famili Passeridae yang berdarah eurasia itu bercicit riang menghampiri pasangannya sebelumnya.
Berkejaran, kemudian mengangkasa bersama.
Did you
know? Justru semudah itu menemukan rumah.
Yogyakarta, 18 Agustus 2015
![]() |
| Image from here |
Hey. Mencarimu tidak begitu sulit
rupanya. Ketika abstraksi menempati ruang, aku tidak pernah takut kau
menghilang. Ada secuil detak yang kutitipkan padamu, berkedip ketika menemukan
sinyalnya. Ya, justru semudah itu.
Hey. Tapi aku selalu penasaran,
bagaimana bila aku pergi untuk beberapa waktu yang cukup lama, masih
sempurnakah sinyal itu dalam rentangan jarak? Atau justru kandas tak berbekas
ketika ditemukan dalam suatu kurun waktu?
Baru kemarin segalanya baik-baik saja.
Kau melontar lelucon kemudian kita terbahak, atau pura-pura ngambek yang
diakhiri uluran tangan menyimpan sesal. Sesekali duka menggantung, tapi
selanjutnya tawa tak berujung. Semanis itu.
Tapi siapa yang tahu besok? Kemudian besoknya
lagi?
Sungguh, aku selalu penasaran. Tapi aku
tidak ingin mendengar kemungkinannya karna terkaan itu membuatku ngilu. Namun harus
tetap bersiap, apabila salah satu dari kita harus merentang jarak. Mungkin
sekarang, mungkin nanti. Karena ada angan rapi menanti.
Selamat mengudara, kapten! Jangan lupa
kendalikan kemudi dan sigap terjemahkan koordinat. Aku di landasan pacu itu, menunggumu
kembali.
What if I give you my
smile?
Are you gonna stay for a while?
What if I put you in my dreams tonight?
Are you gonna stay 'til it's bright?
Are you gonna stay for a while?
What if I put you in my dreams tonight?
Are you gonna stay 'til it's bright?
What
if .. if you leave me right here?
I'm right here and waiting for you.
I'm right here and waiting for you.
Mocca - What If
Kebanyakan
orang menjejalkan telinga mereka dengan tembaga bulat berbuntut kabel yang
ditancapkan pada ponsel pintar atau alat elektronik khusus yang menyediakan
fitur pemutar suara, mendengarkan alunan musik katanya, telinganya dibuat tuli
terhadap sekitar.
Desahan
dahan yang dimainkan angin atau riak-riak air kolam itu adalah satu-satunya suara yang memecah keheningan, terlepas dari lalu lintas beberapa kilometer di depan sana. Tidak perlu berpura-pura punya kawan kalau
jelas-jelas sepi kawan terbaikmu.
Aku bisa melakukan apapun yang kusukai bersama sepi. Acap
kali bersiul mengikuti cicit Burung Gereja, atau hanya sekedar berbaring di rerumputan,
menikmati resonansi syahdu yang diciptakan sang Maestro Alam Semesta. Siapa peduli?
(err kecuali bapak-bapak pemilik tambak ikan di bawah yang tidak banyak bicara,
mungkin beliau sudah maklum).
Aku merebahkan
tubuh diatas permadani hijau yang agak
landai, sungai mengalir lambat di bawah kaki. Agak ketengah arus membelah
lembut pada petak-petak yang ditinggali beberapa jenis ikan. Lalu tiba-tiba ada
yang janggal. Angin tidak lagi menggelitik dari sudut bias matahari.
“Sudah
berapa lama kau disini?”
Malam ini gelap malam ini
dingin. Petir bergemuruh menyuguhkan kilat menyambar lazuardi. Ada yang abai
pada pekatnya malam, merekahkan cahaya pada bunga tidurnya. Ada pula yang
menikmati malam, menyeduh secangkir jahe atau kopi hangat di pos ronda, teman
begadang katanya.
Malam ini temaram malam ini
sepi. Udara terasa mencekik kerongkongan, jangkrik memainkan melodi seiring
melarutnya malam. Dibagian sana, beberapa kilometer tengah kota suasana pasti bingar.
Tak seperti disini, yang kudengar hanya isyarat jam dinding mengetuk-ngetuk relung
sunyi. Ada yang rindu, ada yang benar benar r-i-n-d-u. Apakah ada juga—yang merasa?
Malam ini pilu malam ini
pengecut. Menyembunyikan bintang dalam pekatnya awan. Tak punya keberanian
melihat sekitar. Adakah bintang merasa malu? Terus bergantung pada semesta. Percuma
saja teriaki kalau yang dimasuki ruang hampa, tidak ada yang sudi mendengar. Pulang,
pulanglah, malam adalah malam meski esok berakhir jua.
Dan kebekuan diantara kita,
membuat tubuhku makin mengigil.
Selamat menikmati malam pangeran,
Salam hangat dari kutub angan
yang takkan pernah kugapai.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



